Sungguh tak pernah ada cita-cita dalam diriku untuk menjadi seorang guru. Saat mendengar ada teman yang ingin menjadi guru, aku pun jadi heran. Entah mengapa? Apa karena cerita guruku saat SMA dulu? Ketika mengajar beliau mengeluhkan kalau gaji guru itu sedikit. Kalau aku mengingatnya, aku kasihan sekali dengan beliau. Pantas saja aku dan teman-temanku tidak ada yang suka ataupun menghormatinya. Berbeda dengan guru yang tak pernah mengeluh dengan gaji dan terus semangat memotivasi murid-murid. Guru ini begitu ditunggu kehadirannya saat mengajar.

Ku awali jadi guru privat saat menjadi mahasiswa. Berputar otak bagaimana bisa membantu orangtua yang saat itu kondisi ekonomi serba kekurangan. Adik-adik juga masih membutuhkan biaya sekolah. Alhamdulillah, akhirnya aku bergabung dengan salah satu lembaga bimbingan belajar. Aku mendapatkan murid pertamaku, anak TK. Wah, tantangan sekali. Aku tidak menyukai dunia anak-anak. Aku terus belajar agar bisa sabar mengajarnya. Alhamdulillah dia dan orangtuanya cocok denganku. Menjadi guru privat kujalani hingga aku diterima di tempatku mengajar sekarang, SMP Al Hikmah.

Dalam pembekalan awal menjadi guru di SMP Al Hikmah, kajian-kajian, dan workshop sungguh menjadi guru itu sangat istimewa. Setiap kebaikan yang guru sampaikan kepada murid laksana biji yang kita tanam. Kelak dari biji itulah guru akan bisa memetik manisnya buah hasil tanamannya. Adakala saat menanam ada juga gangguan-gangguan menyertainya. Oleh karena itu penting memilih teman yang senantiasa bisa terus mengingatkan, terutama mengingat mati. Hidup ini ibarat sekedar mampir saja, dunia bukanlah tujuan utama kita.

Murid-murid merupakan perantara bagi guru untuk mendapatkan rahmatNya. Memperbanyak bekal akhirat. Keluhan kecilnya gaji guru akan terbayarkan saat Allah benar-benar memberikan keberkahan atas apa yang kita lakukan. Gaji besar bukanlah kunci kebahagiaan. Buktinya banyak koruptor yang gajinya besar dan bergelimang harta masuk penjara lantaran adanya perasaan kurang di dalam hatinya.

Almarhum Bapak juga sangat senang sekali saat melihatku menjadi guru. Alhamdulillah, bahagia sekali. Apalagi rosul pujaan hati, Muhammad SAW adalah Sang Pendidik. Hati ini semakin bahagia.  Walau kadang saat mendidik ada rasa kesal saat murid tidak menurut, tidak mengerjakan tugas, dan malas. Namun, aku harus tetap berbesar hati. Perjuanganku tak seberapa jika dibandingkan dengan rosullah Muhammad SAW dalam mengajak umat manusia menyembah Allah. Semoga dengan selalu mengingat dan mengulang-ulang kisah rosulullah saat mendidik para sahabat semakin menguatkanku dalam mendampingi murid-muridku.

Ketika aku sedang kesal dan tak semangat mengajar, aku membayangkan bahwa murid-muridku sedang menunggu hal-hal baru dariku. Di antara murid-muridku itu kelak ada yang menarikku ke surga, ada pula yang menarikku ke neraka. Aku tak kan mampu membuatnya pintar dan menjadi baik. Hanya Allahlah yang mampu. Aku tak kan menyia-nyiakan umur dan kesehatan yang Allah berikan kepadaku. Bismillahirrahmanirrahim, semoga Allah meridhai setiap langkahku dan memberikan rahmatNya kepadaku. Aamiin.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.