Cara penyampaian rosul dalam menjelaskan sesuatu yang sifatnya tabu, beliau menggunakan isyarat  atau pengibaratannya, menjelaskan secara umum supaya tidak malu. Ini bisa digunakan apabila melihat murid sudah paham atau jelas sehingga tidak perlu dirinci lagi.

Dikisahkan sebuah hadist oleh Aisyah, tata cara mandinya selesai sesuai haid, Asma tanya didampingi Aisyah. Jawabnya rosul, salah satu dari kalian yang sudah selesai haid ambilnya air dan daun bidara. Rosul menjaga perasaan yang bertanya. Disebutkan air dan daun bidara, banyak dimanfaatkan oleh perempuan daun dilembutkan dan digunakan untuk mandi. Sekarang bisa digantikan dengan sabun untuk membersihkan dan aroma wangi/segar.

Lanjutkan dengan air dan daun bidara digosok pelan-pelan agar akar rambut serta kulit kepala benar-benar basah. kmeudian siram lagi dengan air yang bersih. Ambillah sehelai kapas dan minyak wewangian (aroma harum) kemudian bersucilah dengan kapas itu. Asma pun bertanya karena masih belum banyak, Rosul menjawabnya “Subahnallah Ya bersucilah dengan kapas tersebut” Nabi tidak memperjelas secara rinci untuk menjaga perasaan penanya agar tidak malu.  Aisyah yang mengetahuinya itu lantas mengajak dan mengajari Asma’ itupun secara sembunyi-sembunyi supaya tidak terlihat dan terdengar orang lain.

Asma’ bertanya hal ke-2 berkaitan dengan mandi junub. Rosul mengjawabnya ‘hendaknya kamu ambil air dan daun bidara layaknya mandi haid di atas, kemudian lakukan sebaik-baiknya kamu bersuci. Setelah sabun masih ada dan guyurlah lagi. Tata cara mandi haid dan junub itu sama, hanya saja pada mandi junub tidak menggunakan mewangian. Maknanya ketika mandi haid disunnahkan untuk menggunakan wewangian. Komentar Aisyah, sebaik-baik wanita yaitu wanita Anshor yang rasa malunya tidak menghalaginya untuk bertanya tentang agama. Hikmahnya ketika kita melihat sesuatu yang terkejut hendaknya mengucapkan kalimat tasbih. Sebagaimana yang dilakukan oleh rosul saat terperangah dengan pertanyaan Asma’

Disunnahkan ketika menjelaskan berkaitan dengan aurat disarankan menggunakan kiasan (kinayah) atau isyarat. Seperti hadist Aisyah, saat 10 hari terakhir ramadhan, rasul mengencangkan sarungnya. Maknanya Rosul tidak berhubungan dengan istrinya. Menggunakan bahasa kiasan disarankan untuk menyampaikan hal-hal yang sifatnya malu asalkan orang yang diajak bicara itu mengerti atau paham. Akan tetapi jika terlihat masih belum paham maka dibolehkan menggunakan bahasa yang lugas.

Kisah Abudullah bin Amr bin Ash, kisah seorang istri yang menyampaikan bahasa kiasan. Abdullah dinikahkan dengan wanita terpandang. Saat ayah mertua berkunjung ke rumahnya (Abdullah bin Amr bin Ash). Sang ayah pun bertanya kepada menantunya, “Bagaimana suamimu?” Jawaban istri Abdullah, suamiku adalah sebaik-baik suami.  Suami saya tidak pernah meletakkan tangannya di atas tempat tidur, (maknanya tidak pernah menjamahnya). Dan dia tidak pernah memeriksa pakaianku (maknanya suaminya tidak pernah menjamah atau melihat-lihat dirinya)

Ayah tersebut akhirnya datang ke rosulnya dan mengadukannya. Rosul meminta dipertemukan dengan Abdullah. Ternyata Abdullah itu puasa tiap hari dan khatam setiap malam. akhirnya Abdullah ditawarkan untuk puasa daun. untuk khatamnnya jadi seminggu sekali.

 

Pelajaran hadist pertama haid dan mandi junub

  1. mengulang-ulang jawaban dibolehkan jika masih diperlukan.
  2. mengulang jawaban pun dibolehkan dengan bantuan orang lain yang menjelaskannya
  3. diperbolehkan bagi pendengar (siswa) yang lain untuk menjelaskan apa yang telah disampaikan oleh guru (dengan izin guru terlebih dahulu tentunya) kepada temannya yang masih belum paham
  4. setiap muslim hendaknya bisa menutupi aib-aibnya dan suka menjaga kebersihan serta keharuman tubuh supaya aroma yang tidak sedap itu tidak mengganggu orang lain.
  5. rosul memiliki akhlak yang luar biasa. menggunakan bahasa yang jamak untuk menjaga perasaan penanya.
  6. jangan sampai rasa malu menghalangi kita bertanya untuk memperoleh ilmu

 

 

 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.