Pelaksanaan AKM bersifat adaptif, sehingga setiap siswa akan menempuh soal yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa itu sendiri. AKM itu mengukur kompetensi mendasar yang perlu dipelajari semua siswa tanpa membedakan peminatannya. Oleh karena itu seluruh siswa akan mendapat soal yang mengukur kompetensi yang sama. Keunikan konteks beragam materi kurikulum lintas mata pelajaran dan peminatan tercermin dalam ragam stimulus soal-soal AKM.

AKM ini disusun berdasarkan indikator-indikator kompetensi yang membentuk lintasan kompetensi hasil belajar yang bersifat kontinum. Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemdikbud menyediakan contoh soal AKM pada laman: https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm

A. AKM LITERASI

Pada AKM literasi ada empat kelompok yang menggambarkan tingkatan kompetensinya masing-masing.  Tingkatan dasar yaitu perlu intervensi khusus, selanjutnya tingkat dasar, cakap, dan mahir.

Pada tingkat intervensi, murid kita belum mampu memahami isi bacaan, murid hanya mampu membuat interpretasi sederhana. Sebagai guru maka kita  tidak cukup bertumpu pada materi bacaan tersebut. Murid perlu diberi bahan belajar lain secara audio, visual dan pendampingan khusus.

Pada tingkat dasar, Murid telah mampu mengambil informasi dari teks, namun tidak memahami secara utuh isi topik koperasi atau genetika. Murid dapat diberi sumber belajar pendamping dalam bentuk catatan singkat atau simpulan untuk pemahaman yang utuh.

Pada tingkat cakap, murid mampu memahami dengan baik isi teks mengenai koperasi atau genetika, namun belum mampu merefleksi. Murid dapat diberi pembelajaran identifikasi kondisi lingkungan murid, mengaitkan dengan fungsi dan manfaat .

Sementara murid pada tingkat Mahir mampu memahami isi bacaan dan merefleksi kegunaan koperasi dan genetika dari teks yang diberikan oleh guru. Guru dapat melakukan pembelajaran berupa menyusun beragam strategi pemanfaatan koperasi dan genetika dalam kehidupan nyata.

B. AKM NUMERASI

AKM Numerasi  mencakup pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan disposisi. Kompetensi ini dibutuhkan siswa untuk mengaplikasikan bidang ilmu matematika dalam cakupan dan situasi yang lebih luas. Kompetensi numerasi menuntut siswa untuk mengenali dan memahami peran matematika di dunia, memiliki disposisi dan kapasitas untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan matematika untuk memecahkan masalah dalam kehidupan nyata. Dengan demilkian, siswa akan mampu bernalar, mengambil keputusan yang tepat, dan memecahkan masalah. Kemampuan ini dalam penerapannya berkaitan dengan mata pelajaran lainnya juga.

Konten AKM numerasi di dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu: Bilangan, Pengukuran dan Geometri, Data dan Ketidakpastian, serta Aljabar.  Pada proses kognitif meliputi pemahaman, penerapan, serta  proses berpikir (penalaran) yang dituntut atau diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah atau soal. Sedangkan konteks menunjukkan aspek kehidupan atau situasi untuk konten yang digunakan. Konteks pada AKM dibedakan menjadi tiga, yaitu personal, sosial budaya, dan saintifik.

Tingkatan  kompetensi baik dalam literasi dan numerasi  tersebut dapat dimanfaatkan guru berbagai mata pelajaran  menyusun strategi pembelajaran yang efektif dan berkualitas sesuai dengan tingkat kompetensi siswa. Dengan demikian “Teaching at the right level” dapat diterapkan. Pembelajaran yang dirancang dengan memperhatikan tingkat capaian siswa akan memudahkan siswa menguasai konsep, keterampilan dan konten yang diharapkan pada suatu mata pelajaran. Anda dapat membaca informasi selengkapnya pada tautan berikut ini: AKM dan Implikasinya pada Pembelajaran. https://hasilun.puspendik.kemdikbud.go.id/akm/file_akm2.pdf

Sejalan dengan tujuan Asesmen Nasional untuk mencapai kompetensi siswa dan peningkatan mutu pendidikan, maka praktik pembelajaran pun sedikit demi demi sedikit perlu berubah dari pembelajaran yang berbasis konten menuju pembelajaran yang berbasis kompetensi.

Kompetensi diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik, misalnya mampu melakukan tugas atau pekerjaan secara efektif. Kompetensi juga mencakup pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal, atau bahkan keterampilan yang jauh lebih besar dan lebih beragam. Misalnya memimpin organisasi.

Pada pembelajaran berbasis kompetensi, siswa diharapkan mampu;

  1. mendemonstrasikan pengetahuan,
  2. penguasaan konsep,
  3. dan keterampilan dalam dan sebagai proses pembelajaran.

Karakteristik utama dari pembelajaran berbasis kompetensi adalah fokusnya pada tingkat penguasaan. Dalam sistem pembelajaran berbasis kompetensi, siswa melakukan pembelajaran sesuai dengan tahapan penguasaan kompetensinya hingga tuntas sebelum akhirnya mampu melanjutkan pada tahap penguasaan kompetensi berikutnya. Sebagai sebuah proses, pembelajaran berbasis kompetensi ini membutuhkan waktu.  Sedikit demi sedikit siswa menunjukan penguasaan pengetahuan, konsep dan keterampilan untuk memecahkan masalah. Termasuk menunjukan karakter yang ingin dicapai. Bukan sekedar menguasai konten materi pembelajaran semata.

Kekuatan pembelajaran berbasis kompetensi terletak pada fleksibilitasnya karena siswa dapat bergerak dengan kecepatan belajar mereka sendiri. Ini mendukung siswa dengan latar belakang pengetahuan yang beragam, tingkat literasi yang berbeda dan bakat terkait lainnya. Tantangan pembelajaran berbasis kompetensi bagi guru antara lain adalah, kemampuan untuk mengidentifikasi tahapan kompetensi dasar siswa termasuk literasi dan numerasi. Anak-anak itu beragam, maka perlakuannya pun harus beragam, tidak disamakan. Sukses selalu untuk guru dan anak-anak Indonesia. Allah memberikan keberagaman agar kita senantiasa selalu belajar menghargai masing-masing individu bukan untuk dibandingkan atau bahkan di rangking!

 

 

Sumber:

Disarikan dari pengalaman mengikuti Bimtek Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum SMP – Angkatan 5

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.