Mengikuti perkembangan dunia pendidikan, saat ini sekolah berbondong-bondong membekali siswanya dengan berbagai keterampilan atau kecakapan hidup. Mengarahkan siswanya untuk lebih mengenal dan mampu menyelesaikan masalah. Siswa dihadapkan pada masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ini sejalan dengan arah pendidikan di Indonesia. Ujian Sekolah sudah bukan lagi momok yang menakutkan karena sudah tidak ada lagi. Sekolah diberikan kebebasan dalam membekali siswa-siswinya dengan berbagai kompetensi.

 

Jika siswa sudah terbiasa dihadapkan pada masalah, maka dalam perjalanannya dia akan mampu berjuang dan menaklukkan tantangan karena sudah terbiasa. Siswa akan menjadi lebih mandiri. Beda halnya jika siswa hanya dijejali dengan latihan-latihan soal, dia akan minim keterampilan menemukan solusi yang tepat ketika ada masalah dalam kehidupannya. Pembelajaran berbasis masalah yang dapat dikembangkan untuk siswa diantaranya STEM, PJBL, Inqury, atau PBL. Pembelajaran tersebut mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. Pada dasarnya ilmu akan sangat terasa manfaatnya jika saling berkolaborasi

 

Salah  satunya yang sedang berekembang saat ini adalah pembelajaran dengan STEM (Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika). Kolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu dapat dilakukan agar siswa mampu berpikir global dna kompleks. Sains, kajian mengenai fenomena alam yang melibatkan observasi dan pengukuran. Teknologi, inovasi-inovasi yang memodifikasi alam agar mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Enjinering, pengetahuan dan keterampilan untuk mendesain untuk mengkontruksi mesin, peralatan, sistem, material dan proses yang bermanfaat untuk manusia secara ekonomis dan ramah lingkungan. Matematika, ilmu tentang pola-pola dan hubungan-hubungan dan menyediakan bahasa bagi teknologi, sains dan enjinering. Dengan STEM ini guru melatih siswa untuk menemukan solusi sekaligus menciptakan sebuah produk untuk memenuhi kebutuhan manusia.  Misalnya, siswa dihadapkan pada semua kasus yang dihadapi oleh penjual telur. Pasalnya penjual telur sering merugi karena  suplai telurnya banyak yang busuk. Bagaimana caranya agar penjual tersebut tidak terus merugi? Lalu siswa menganalisis dan menciptakan alat sederhana untuk mendeteksi telur agar mampu membedakan telur yang masih segar (bagus) dengan telur yang sudah lama (akan busuk). Tentunya produk (alat) tersebut harus memenuhi indikator-indikator tertentu dan terukur.

 

Guru harus menganalisis Kompetensi Dasar (KD) yang bisa digunakan untuk pembelajaran berbasis STEM karena tidak semua KD bisa dibuat pembelajaran STEM. Dengan pembelajaran STEM otomatis siswa sudah terlatih dengan pembelajaran HOTS (High Order Thinking Skills). STEM pasti HOTS. Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu cara memberikan pembelajaran yang bermakna untuk siswa.

Silakan diunduh materi STEM

STEM SMP

Model pada Pendekatan STEM

Framework STEM HR Selasaan 310718

2. INTEGRASI STEM DALAM KURIKULUM

4-Peter-STEM Education Journey in Australia_PPT

5-Hatanaka-STEM Education in Japan – Best Practices and Lesson Learned from the fields_PPT

 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.