Alkisah pada zaman dahulu ada seorang tukang kayu yang bekerja di suatu tempat. Pada suatu hari majikannya menyuruh dia menebang pohon kayu yang ada di hutan dengan imbalan yang sangat banyak. Mendengar imbalan itu, penebang kayu semangat dan siap melaksanakan tugasnya.

Tukang kayu dengan semangat berangkat ke kebun yang menjadi target. Dipandangi pohon-pohon yang hendak menjadi sasaran kapaknya. Dia ingin menunjukkan kepada majikan barunya kepiawaiannya menebang pohon. Hari menjelang petang, tukang kayu menemui majikannya dan melaporkan jumlah pohon yang berhasil ditebangnya. Sang majikan bangga, berkali-kali memujinya, dan memberinya bonus.

Di hari kedua, tukang kayu berharap bisa menebang lebih banyak dan mendapatkan bonus lagi dari majikannya. Tapi, harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Hasil tebangannya lebih sedikit dibandingkan hari pertama. Semakin hari bukannya bertambah banyak pohon yang berhasil di tebang, tetapi sebaliknya. Jumlah pohon yang ditebang semakin menurun. Tukang kayu pun menjadi kesal. Puncaknya di hari ketiga, dia hanya berhasil menebang 6 pohon. Padahal di hari pertama sangat banyak.

Akhirnya tukang kayu mengadukan permasalahannya ke majikannya. “Padahal saya sudah mengerahkan seluruh tenaga, tapi kenapa pohon yang berhasil saya tebang terus menurun?” tutur tukang kayu dengan wajah lesu. “Kapak yang saya gunakan pada hari pertama dengan hari-hari berikutnya juga sama. Kenapa di hari pertama saya bisa merobohkan banyak pohon? Hari-hari berikutnya tambah turun! “imbuhnya dengan kesal. “Kapan terakhir kali kamu mengasah kapak?” tanya Sanga Majikan sambil memandangi kapak yang tergeletak di dekat tukang kayu. Tukang kayu tersentak kaget mendengar pertanyaan di luar dugaannya. “Kamu melupakan satu hal saudaraku,” jawab Sang majikan. “Kamu lupa tidak pernah mengasah kapakmu,” imbuhnya. Tukang kayu menundukkan pandangannya. Dia malu dan baru menyadari keteledorannya.

Selama ini ternyata tukang kayu belum pernah mengasah kapaknya, dia hanya fokus kepada hasil kerjanya, fokus pada bonus yang dijanjikan oleh majikannya. Tukang kayu lupa dengan senjata utamanya. Ketajaman kapak sangat menentukan keberhasilannya dalam merobohkan pohon. Kita tidak boleh hanya mengejar ambisi, fokus pada target yang ingin dicapai tapi melupakan faktor-faktor pendukung kesuksesan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.