Semua manusia memilih cita-cita atau impian yang hendak dicapai, baik itu jangka pendek ataupun jangka panjang. Agar impian dan cita-citanya itu tercapai tentunya mereka membuat rancangan terlebih dahulu. Selanjutnya, mereka akan melakukasn aksinya. Aksi-aksinya itu saya ibaratkan sebagai umpan. Ketepatan dalam memilih umpan sangat menentukan kesuksesannya. Mengapa? Kita lihat saja para pemancing, mereka pastinya memilih umpan yang berkualitas agar ikan buruannya bisa dibawa pulang. Jika umpan yang dipasang itu bukan selera ikan yang dimaksudkan maka kecil sekali peluang sang pemancing membawa banyak ikan.

 

Begitu pulanya kita dalam proses “memikat” cita-cita atau impian. Harus memiliki strategi yang tepat. Mulai dari alat untuk digunakan berupa pancing atau jala. Apabila kita sudah menetapkan bahwa alat yang kita gunakan nanti yakni pancing maka harus diperhitungkan kekuatannya. Jangan sampai ketika ada ikan besar yang memakan umpan kita, ternyata alat pancing yang kita pakai tiba-tiba putus. Atau, ikan idaman kita melepaskan diri lantaran umpan pemberian kita tidak dimakan semua. Ikan sekadar mencicipi dan melepaskannya lagi.

 

Kemungkinan kedua, kita ingin mendapatkan tangkapan yang banyak sehingga memutuskan menggunakan jala. Tapi, ingat jalanya pun harus kuat demikian kita. Saat menebar jala maka kekuatan menjadi penting waktu menebar jala. Jika tidak, maka jala hanya hanya jatuh pada bagian tepi saja, tak mampu terbentang lebar. Akhirnya, tangkapan ikan menjadi sedikit. Bisa jadi kecil-kecil. Sementara ikan besar berada dibagian tengah atau disudut.

 

Analogi tersebut menjadi sebuah isyarat kita dalam berstrategi. Jikalau menginginkan target besar tercapai maka diperlukan usaha yang sangat luar biasa, tenaga yang kuat. Semakin tinggi cita-cita dan harapan pastinya usaha yang dikeluarkan juga harus sebanding, bahkan harus berlebih. Namun, kita juga harus mempercayai kekuatan lain diluar jangkauan manusia. KehendakNya. Kekuasan ini bisa kita gerakkan dan kita kategorikan layaknya umpan atau jalan. Dengan demikian, umpan dan jala tidak terbatas pada usaha fisik dan tampak oleh mata saja. Membangun hubungan dengan sang Khaliq melalui menegakkan ajarannya bagian nyata.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.