Tahun 2020 merupakan sejarah baru dalam pendidikan di Indonesia, babak baru, lantaran Ujian Nasional dihapus dalam sistem pendidikan di Indonesia. Sepanjang sejarahnya Ujian Nasioanal senantiasa menuai pro dan kontra dari praktisi pendidikan, pengamat pendidikan, maupun orangtua. Menteri Pendidikan, Nadiem Anwar Makarim, menghadirkan program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Penilaian mutu satuan pendidikan akan didasarkan pada  hasil belajar siswa yang meliputi (literasi, numerasi, dan karakter), kualitas proses belajar-mengajar,  serta iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Penjelasan tersebut bersumber dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

  1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM): mengukur  kompetensi  literasi membaca dan numerasi.
  2. Survei Karakter:  mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter siswa
  3. Survei Lingkungan Belajar:  mengukur kualitas berbagai aspek input, proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat sekolah.

Hadirnya Asesmen Nasional ini pun menuai banyak respon dari praktisi pendidikan, pengamat pendidikan, orangtua, dan siswa. Mereka gelisah dan bingung karena belum paham sepenuhnya arah dan tujuan asesmen nasional ini. Apa dan bagaimana Asesmen Nasional (AN) dan Ujian Nasional (UN)?

  1. Asesmen Nasional menghasilkan informasi untuk memantau: (a) perkembangan mutu  (b) kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya di satuan pendidikan: antara kelompok sosial ekonomi, di satuan wilayah antara sekolah negeri dan swasta, antar daerah, ataupun antar kelompok berdasarkan atribut tertentu).
  2. Asesmen Nasional menunjukkan tujuan utama sekolah, yakni pengembangan kompetensi dan karakter siswa.
  3. Asesmen Nasional  memberikan gambaran karakteristik esensial sebuah sekolah yang efektif.

Dengan demikian, Asesmen Nasional sendiri diharapkan mampu memberikan manfaat, bukan sekedar nilai belaka, dimaksudkan sebagai peta awal mutu sistem pendidikan secara nasional. Asesmen Nasional tidak akan digunakan untuk mengevaluasi kinerja sekolah maupun daerah.

Kita tengok ke belakang, Ujian Nasional lebih berorientasi pada pencapaian hasil belajar individu dan pembelajaran yang berorientasi pada ujian. Sasaran kompetensi sebagai perbaikan mutu pendidikan seringkali terabaikan. Beberapa poin evaluasi berikut ini juga menjadi pertimbangan untuk menghentikan pelaksanaan Ujian Nasional dan menetapkan penyelenggaraan Asesmen Nasional.

  1. Butir-butir soal UN hanya mengukur kemampuan kognitif siswa, sehingga input dan proses pembelajaran kurang dapat tergambarkan dengan baik. Ini tidak relevan dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi di Abad 21, sebagaimana tercermin pada Kurikulum 2013.  Profil pelajar pancasila belum lengkap dilakukan melalui UN.
  2. UN kurang dapat dimanfaatkan guru untuk memperbaiki pembelajaran pada subjek siswa yang sama. Asesmen Nasional dirancang untuk memberi dorongan lebih kuat ke arah pengajaran yang inovatif dan berorientasi pada pengembangan kompetensi, termasuk di dalamnya kemampuan bernalar.
  3. UN kurang optimal sebagai alat untuk mengevaluasi mutu pendidikan secara nasional karena dilaksanakan di akhir jenjang pendidikan lebih sebagai assessment of learning yang mengukur capaian akhir, bukan sebagai sebagai assessment for learning, yang mengukur proses pembelajaran. Hasil UN tidak bisa digunakan untuk mengakomodir kebutuhan belajar yang diperlukan siswa.

Asesmen Nasional merupakan sebagai tanda kesungguhan dalam memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Persiapan yang perlu dilakukan adalah pemahaman mengenai tujuan dan manfaat Asesmen Nasional, serta implikasinya pada perubahan praktik dan strategi pembelajaran di kelas. Siswa, guru, orangtua, kepala satuan pendidikan tidak lagi direkomendasikan untuk berlatih soal-soal persiapan AKM sebagaimana penilaian yang berbasis ujian. Dengan demikian, akan menjadi salah kaprah jika hingga saat ini sekolah masih menyiapkan latihan soal-soal berbasis AKM sebagai langkah antisipasi Asesmen Nasional. Perbaikan yang perlu dilakukan adalah kompetensi literasi, numerasi, dan karakter. Jangan ada lagi bimbel latihan soal-soal AKM, tetapi masukkanlah kompetensi tersebut dalam pembelajaran sehari-hari di kelas!

 

Sumber:

Disarikan dari pengalaman mengikuti Bimtek Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum SMP – Angkatan 5

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.