Menurunnya angka penuluran Covid 19 dan semakin banyak wilayah yang dinyatakan level 1 membuat sejumlah sekolah mengadakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Tentunya dengan persiapan yang sangat matang, mulai dengan memastikan seluruh tenaga pendidikan dan non kependidikannya telah divaksin, begitu pula dengan siswanya, sarana dan prasana penunjang lainnya. Sekolah menyediakan sarana untuk cuci tangan, hand sanitizer, ventilasi ruangan yang bagus, dan pembentukan tim Satgas Covid.

 

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pun disambut baik oleh para siswa dan orangtua meskipun masih ada yang belum mengizinkan anaknya untuk PTM. Ketakutan orangtua melepaskan anaknya sekolah bisa jadi karena ada trauma ada keluarga yang meninggal atau pernah terinfeksi Covid-19 dan pertimbangan lainnya. Sekolah memberikan kebebasan kepada orangtua dan siswa. Sekolah tidak memaksa harus 100% mengikuti PTM. Kapasitas dalam satu kelas juga dibatasi dengan pengawasan dan protokol kesehatan yang ketat.

 

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak sekolah yang memberanikan untuk melakukan PTM, sayangnya ada beberapa sekolah protokol kesehatannya kendor. Penulis menyaksikan sendiri, sepanjang jalan menemui anak-anak pulang sekolah menggunakan transportasi umum dengan asyiknya berbincang dengan teman, masker tidak dipakai sempurna, sambil menikmati minuman digenggamannya. Ada juga siswa yang pergi dan pulang boncengan dengan temannya serta lanjut bermain bareng. Euforia inilah yang harusnya bisa dikendalikan baik oleh orangtua dan guru. Orangtua selalu dan guru senantiasa berpesan kepada anak-anak untuk selalu patuh protokol kesehatan. Diingatkan kembali dampak buruknya jika angka Covid 19 kembali meroket. Orangtua dan guru harus menjadi teladan. Pasalnya ada juga oknum guru dan orangtua mulai kendor. Makan-makan bersama teman-temannya serta foto-foto dengan masker di lepas. Sungguh memprihatinkan.

 

Dengan kondisi sebagaimana paparan di atas, menurut saya jalur penerimaan siswa baru melalui sistem zonasi lebih cocok, mengapa? Bagi siswa dan orangtua yang terkendala dengan sarana transportasi menuju ke sekolah maka akan dimudahkan. Siswa cukup bersepeda atau dengan jalan kaki sehingga tidak perlu menggunakan transportasi umum. Hal itu untuk meminimalisasi penularan virus Covid 19. Selain itu, tidak perlu mengeluarkan ongkos atau biaya untuk masalah transportasi. Selama ini orangtua dan siswa menolak sistem zonasi karena sarana dan prasarana sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya lantaran tidak lengkap. Semoga kedepannya, sekolah-sekolah di Indonesia ada pemerataan sarana dan prasana. Ada juga yang berpandangan lain yakni karena sekolah tersebut bukan sekolah favorit. Sebenarnya favorit tidaknya sekolah itu ditentukan oleh kualitas siswa yang masuk. Jika anak-anak yang masuk di sekolah dengan sistem zonasi itu bagus maka niscaya akan menjadikan sekolah tersebut menjadi favorit.

 

Paradigma sekolah favorit yang salah itulah seharusnya mulai kita sadari. Selama anak-anak disebuah sekolah tersebut belajar dengan sungguh-sungguh dan orangtua bisa menjalin komunikasi dengan pihak sekolah maka sekolah yang awalnya biasa saja pun akhirnya menjadi sekolah favorit. Mengapa sekolah biasa tidak bisa menjadi sekolah favorit? Karena siswa dan orangtua masih tidak percaya akan kemampuan guru di sekolah tersebut mampu membuat anak-anaknya berprestasi gemilang. Semoga tidak ada lagi dikotomi antara sekolah favorit dan tidak favorit. Semua sekolah di Indonesia adalah sekolah favorit!

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.