Rosullah Muhammad saw dalam pengajarannya memberikan penegasan dengan sumpah.  Misalnya saja ketika Rosulullah ditanya tentang orang kafir berkaitan keberadaan tentang kiamat maka beliau langsung menunjukkan contoh langsung yaitu dalam Yunus ayat 53. Saat itu kaum Kafir bertanya kepada beliau, “Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?” Katakanlah, “Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya (azab) itu pasti benar dan kamu sekali-kali tidak dapat menghindar. Kata demi Tuhanku, menjadi penguat dan penegasan kepada kebenaran adanya azab dari Allah SWT untuk mendebat pemahamanan yang salah orang-orang kafir.

Dalam surat Saba’ ayat 3. Katakanlah, “Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang gaib, Kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh),Katakanlah pasti datang, demi Tuhanku. Kata demi Tuhanku, dalam ayat tersebut mendebat ketidakpercayaan kaum kafir terhadap hari  kiamat.

Demikian pulan dalam surat At taghabun ayat 7, (Orang-orang yang kafir mengira, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), “Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.”). Kata demi Tuhanku untuk menguatkan dan melawan orang kafir yang menyangkal hari kiamat.

Berdasarkan ketiga ayat tersebut, penting kiranya ketika kita memberikan penjelasan atau penegasan itu harus mempunyai landasan yang tepat. Ada bukti pendukung yang nyata. Bukti disertai kesaksian sumpah atas nama Allah bahwa Allah SWT telah menuliskannya dalam kitab Alquran yang diyakini kebenarannya.

Di Riwayatkan oleh Abu Hurairah, Rosulullah bersabda. Demi jiwaku yang ada ditanganNya, Kamu tidak akan masuk surga sampai kamu beriman. Surga itu khusus untuk orang-orang beriman bukan orang kafir. Iman itu sesuatu yang sangat berharga dan nikmat Allah yang besar dan wajib kita syukuri. Keimanan itu tidak ada artinya jika tidak memiliki kecintaan kepada umat muslim. Cara mudah yang bisa kita lakukan yaitu dengan menebarkan salam. Dikisahkan suatu ketika Umar beli ke pasar tidak membeli apa-apa. Ternyata Umar hanya ingin mengucapkan salam saja kepada pembeli dan pedagang di pasar. Ini mengajarkan kepada umat muslim  sebarkanlah salam dimanapun berada.

Kesempurnaan iman kita bisa dilihat dari hubungan dan rasa cinta kepada tetangga. Kecintaan kita tidak akan dapat dicapai jika di dalam hati ini masih ada perasaan iri, dengki, dan sakit hati. Apabila mendengar saudara kita mendapat nikmat, kita harus merasa ikut senang juga sehingga timbul saling mencintai satu sama yang lain. Kita doakan orang-orang kafir agar mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Siapa orang-orang yang tidak beriman itu, yaitu orang-orang yang tidak memberikan rasa aman untuk tetangga. Jika tetangganya merasa tidak aman dari keburukannya. Tetangga ini suatu ketika bisa melukai atau mencelakai kita.

Ada 3 derajat kita dalam beramalah

1.       Jangan sampai menyakiti tetangga, contohnya tidak menggunjing atau mengintip tetangga, melempar tetangga dengan kotoran.

2.       Harus sabar dengan apa yang dilakukan tetangga

3.       Berbuat baik dan menghormati, misalnya mengundang tetangga ke rumah, menjenguk jika sakit.

 

Hikmah dari penjelasan di atas, penting kiranya guru atau pendidik dalam meyakinkan anak didiknya dengan penjelasan-penjelasan yang menguatkannya. Dengan demikian, anak didik mampu membedakan antara yang benar dan salah, antara yang penting dan tidak penting. Penegasan atau sumpah yang mengatasnamakan Allah SWT bukan atas nama makhluk-makhluk lainnya. Karena kebenaran yang berasal Allah SWT itu pasti.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.