Pemakluman perilaku-perilaku buruk atau negatif untuk anak usia remaja sangatlah bahaya. Pelajaran dari para sahabat “anak-anak muda” di zamannya sangat luar biasa. Pengaruh pendidikan barat ternyata banyak yang melenceng dari tuntunan Islam. Tugas atau PR kita hari ini kepada anak-anak kita,  marilah jangan kita pandang anak-anak dengan sudut pandang Stanley Hall, sebagai biang kerok.  Menurut Stanley Hall, usia remaja merupakan masa antara usia 12 sampai 23 tahun dan penuh dengan topan dan tekanan. Topan dan tekanan adalah konsep Stanley Hall tentang remaja di mana masa ini adalah masa goncangan yang ditandai dengan konflik dan perubahan suasana hati (Santrock, 2003). Akibatnya kita sering memaklumi perilaku anak-anak remaja yang buruk sehingga membiarkannya.

Sebagian psikolog muslim Arab juga masih menyebut usia remaja dengan istilah murohik. Dalam surat  Al Jinn ayat 5 disebutkan

وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ تَقُوْلَ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۙ

“dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah,”

Maka dia sudah memberikan pandangannya bahwa anak remaja itu pelaku dosa. Sebutlah dengan sebutan as sabab, sebuah alat/potensi. Tidak memandangnya sebagai trouble maker. Marilah kita memandangnya sebagai potensi, layaknya sebuah kobaran api, bisa dimanfaatkan untuk memasak dan membumi hanguskan keburukan.

Mengapa anak menjadi trouble maker? Karena hak pengasuhan anak yang tidak terpenuhi sehingga perilaku anak menjadi menyebalkan. Itu sebagai tagihan hak anak yang tidak dipenuhi oleh orangtuanya saat kecil. Bisa jadi saat kecil, anak sering ditolak oleh orangtuanya ketika dia membutuhkan dan memanggil orangtuanya. Panggilannya diabaikan. Maka, periksalah boleh jadi kita tidak memberikan hak anak disaat dia membutuhkannya.

Dikisahkan suatu hari Umar bin khattab  kedatangan  seorang tamu laki-laki. Laki-laki itu  mengadukan permasalahan kebandelan anaknya kepada Umar. Anaknya pun diomelin atas kedurhakaan kepada orangtua. Anak tersebut pun kemudian bertanya pada Umar. “Adakah hak anak pada bapaknya?”  jawab umar, ada. Apa saja hak anak pada bapaknya? Umar menjelaskan  cukup 3 yaitu, mendapat ibu yang baik, nama yang baik, dan pengajaran kitab. Sang anak kemudian menjawab, sesungguhnya tidak diberikan oleh ayahku 3 hal tadi, ibuku negro agamanya majusi, aku diberi namanya curut/kecoa. dan aku tidak diajarkan huruf dalam Alquran. Umar pun menoleh geram pada sang laki-laki yang mengadu kepadanya tadi. Perasaan simpatinya berubah seketika.

Akil dan Baligh

Istilah akil baligh sebenarnya muncul karena sebagai perenungan dengan apa yang terjadi sebelumnya. Sebagai isyarat orangtua untuk memproses akil dulu. Baligh merupakan proses tumbuh kembang dari segi fisik, kematangan dari segi hormonnya. Maka tugas kita janganlah pusing dengan balighnya anak. Akan tetapi, fokusnya pada akilnya dalam proses pengasuhan anak.

Pada tahun 2011  muncul fenomena anak SMA seperti anak balita. Mereka berbicara layaknya anak bayi. Jika ingin mengetahui kematangan anak maka  lihatlah dari bahasanya. Bisa jadi tua tapi tidak dewasa. Ini terjadi karena pola asuh yang salah. Ada sebuah cerita, seorang ibu yang mengadukan permasalahan yang dialami anak laki-lakinya. Anaknya bekerja disebuah perusahaan. Setiap kali dia pulang selalu menangis. Ibunya merasa kasihan. ibunya menyampaikan bahwa sang anak menangis karena sering dimarahi oleh bosnya. Padahal sang ibu sendiri selama ini tidak pernah memarahinya. Betapa rapuhnya anak laki-laki ini, mengatasi masalahnya sendiri saja dia tidak mampu. Padahal dia sudah berusia 24 tahun.

Pada zamannya rosulullah, tanda sahabat boleh menikah yakni ketika sahabat telah mampu berjimak, contohnya abi salamah. Sahabat pada zaman dahulu akilnya sudah siap dan bagus sehingga hanya menunggu masa balighnya saja. Jika sudah baligh maka dia boleh nikah. Nah, kalau  sekarang kebalikannya. Baligh dulu tapi akil belum. Kematangan dan kedewasaan berpikirnya belum. Indikator anak yang matang secara emosi yaitu banyak senyum dan tawa. Jika anak tidak memiliki 2 hal tersebut maka ketika dewasa akan timbul gejolak emosi dan cenderung agresif, melakukan kekerasan verbal dan non verbal. Ibu memiliki satu tugas pokok yaitu alwadulalwalud. Ibu itu harus “subur”, mudah punya anak. Namun bukan berarti perempuan yang tidak punya anak, boleh direndahkan. Ingat kisahnya Asyiah, beliau tidak punya anak, namun beliau perempuan mulia. Alwadud artinya peran perempuan sebagai ibu.

Seorang ibu jangan meninggalkan anak saat masa menyusui. ISaat menyusui itulah terjadi kontak erat anatara ibu dan anak. Ibu bisa ngobrol banyak dengan bayinya karena ibu memiliki perbendaraan kata yang luar biasa besar. Sementara untuk penstimulan akal itu perannya ayah. Dalam Al hujurat ayat 13.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ – ١٣

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti”

Laki-laki dalam ayat tersebut disebut dzakar karena makhluk logis. Ayah yang melatih anak berpikir. Oleh karena itu ayah harus dihadirkan agar tidak menjadi anak alay, anak melayang.

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلاَ تَظْلِمُوا.

Dari Hudzaifah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
Janganlah kalian menjadi Imma’ah; kalian berkata: jika orang-orang baik, kami pun ikut baik. Dan jika mereka dzalim kami pun ikut dzalim. Tetapi siapkan diri kalian (untuk menerima kebenaran dan kebaikan); Jika orang-orang baik, kalian harus baik dan jika mereka rusak kalian jangan menjadi orang dzalim.” (HR. Tirmidzi dan berkata: Ini hadits hasan ghorib)

Ciri anak imaah, “terserah.” anak yang tidak bisa menentukan tujuan hidup dan mudah dipengaruhi temannya, ikut-ikutan. Anak-anak yang terpapar pornografi 80% biasanya mereka hanya ikut-ikutan. Ayah hadir secara fisik tapi tidak secara psikis.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan jika memiliki utang pengasuhan atau utang hak anak.

  1. minta maaf kepada Allah, istigfar. anak tidak hanya butuh duit saja.
  2. banyak melakukan amal sholih. kebaikan yang banyak akan mengusir keburukan
  3. diskusi dengan pasangan. ikuti kajian2 atau kelas-kelasnya.
  4. minta maaf kepada anak.  utang pengasuhan membuat anak terluka dan bisa berujung pada kebencian.

 

disarikan dari parenting bersama ustadz Bendri Jaisyurrahman, Praktisi Islamic Parenting Pendiri dan Pembina Yayasan Langkah Kita

 

 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.