Rencana sekolah tatap muka yang akan digelar semester genap batal diwujudkan. Lonjakan pasien covid pasca liburan natal dan tahun baru membludak. Banyak rumah sakit yang overload pasien covid sehingga menolak pasien covid baru lantaran tidak cukup ruang untuk menampunnya. Masyarakat mulai kendor dan menyepelekan protokol kesehatan. Beberapa zona yang sudah mulai kuning berubah kembali menjadi zona merah.

Dampak yang sangat terasa tentunya di sektor pendidikan. Kalau sektor pariwisata, ekonomi seperti pertokoan atau mall tidak separah pendidikan. Bayangkan, anak-anak mulai bulan November 2020 lalu hingga kini pembelajarannya masih daring. Hanya beberapa sekolah saja yang sudah berani membelakukan pembelajaran tatap muka. Jika sebuah sekolah berani menggelar pembelajaran tatap muka maka sejatinya siap mengeluarkan anggaran yang besar. Bukan hanya sekolah namun juga para orangtua atau walimurid. Sekolah tidak hanya untuk menyiapkan fasilitas cuci tangan, hand sanitizer, desinfektan, masker saja akan tetapi harus rutin melaksanakan swab bukan rapid test, minimal sebulan sekali.

Kendalanya yaitu mahalnya biaya swab.  Hal ini membuat masyarakat Indonesia kadang tidak mengetahui bahwa dirinya OTG (Orang Tanpa Gejala) sehat, bugar tapi berpotensi menularkan covid. Kondisi ini sungguh mengkhawatirkan jika sekolah tatap muka tapi tidak dibarengi prosedur yang ketat. Bisa jadi siswa dan guru sehat bugar namun mereka OTG. Tentunya ini sangat membahayakan. Kita sudah kehilangan banyak tenaga medis. Jika sekolah tatap muka tanpa perhitungan dan strategi yang matang, bagaimanakah negara Indonesia di masa mendatang?

Mimpi penulis biaya test swab terjangkau seperti orang test kolesterol atau asam urat diapotik. Apalagi jika test swab ditanggung oleh negara sebagai salah satu fasilitas untuk menjaga kesehatan warganya. Pastinya semua sektor berjalan normal kembali. Sekolah tatap muka dibuka tanpa was-was. Guru dan murid merasa nyaman belajar seperti sediakala.  Disparitas pendidikan selama pandemi semakin tajam antara masyarakat desa dengan kota, antara sekolah maju dengan sekolah pinggiran. Semoga generasi Indonesia segera mampu merakit alat yang sederhana, murah, tetapi canggih untuk mendeteksi covid sehingga sekolah normal kembali. Pemerataan pendidikan di seluruh NKRI bukan hanya isapan jempol.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.