Si Kerbau memiliki kebiasaan mandi di kubangan berjam-jam begitu pula dengan Si Katak. Keduanya sangat menyukai air.  Suatu hari Kerbau dan Katak berpapasan di perempatan sebuah jalan.

“Hai Kerbau mau kemana kok kelihatannya buru-buru?” sapa Katak.

“Aku mau pulang soalnya dari tadi aku main terus, ibuku pasti mencari,”

“Eh, sebentar dulu,” cegah Katak.

“Waduh ada apa sih?”

“Kerbau, menurutmu nanti malam kira-kira hujan tidak?”

“Ya, pertanyaanmu aneh sekali Katak. Tidak mungkin hujan! Lihat saja langit tampak terang. Hari ini panas sekali! Jadi sepertinya tidak mungkin hujan!”

“Kamu salah! Aku baru saja dari rumah rajaku. Katanya nanti malam akan turun hujan deras sekali. Makanya nanti malam kami akan mengadakan pesta.”

“Wah, kalau menurutku tidak mungkin! Barangkali rajamu salah. Bulan-bulan seperti ini tidak pernah turun hujan!” kata Kerbau setengah mengejek.

“Eemmmm, baik. Bagaimana kalau ternyata kata-kata rajaku jadi kenyataan?”

“Kamu boleh minta apa pun! Tapi kalau nanti tidak hujan maka kamu harus menyediakan air yang penuh di kubanganku. Bagaimana?

“Setuju!” seru Katak tanpa berpikir panjang. Katak sangat yakin akan ramalan rajanya. Sebab, selama ini ramalan rajanya itu  selalu tepat dan jadi kenyataan.

Mereka berdua pun kemudian berpisah menuju rumahnya masing-masing. Si Katak tampak gelisah. Dia mondar-mandir di depan rumahnya sambil terus menerus melihat langit. Ayahnya heran melihat gerak-gerik anaknya yang tidak biasa itu.

“Kamu ini kenapa dari tadi mondar-mandir.  Ayo siap-siap ke rumah raja!”

“Ayah, lihat langitnya cerah! Tidak ada tanda-tanda akan hujan.”

“Sudahlah, hujan atau tidak kita harus memenuhi undangan raja.”

“Aku malas Ayah, “ jawab katak kecil meninggalkan ayahnya.

Sementara itu di rumahnya Si Kerbau sedang bersuka ria membayangkan esok hari dirinya akan berendam sepuas-puasnya di kubangan kesukaannya. Wajahnya berbinar-binar. Dia sudah tak sabar menunggu pagi. Dia ingin segera melihat katak terengah-engah menyediakan air untuknya.

Karena kelelahan menunggu hujan turun, akhirnya Si Katak tertidur. Dia tidak memenuhi undangan rajanya malam itu. Saat terbangun pagi harinya dia langsung meloncat keluar.  Tanah tetap kering dan idak terlihat daun-daun di sekitarnya basah. Katak tampak sedih karena tidak ikut berpesta bersama teman-temannya dan pagi ini harus menyediakan air. Air kubungan untuk Kerbau.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.