Pemerintah Indonesia terus berusaha meningkatkan kualitas pendidikannya, salah satunya dengan menjadi peserta Programme fot International Student Assesment (PISA) sejak tahun 2000. PISA ini  diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Berdasarkan hasil PISA tahun 2018 yang masih rendah dari negera-negara peserta lainnya, pemerintah melakukan berbagai perbaikan dan inovasi-inovasi dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, telah memutuskan kebijakan baru di antaranya dengan meniadakan Ujian Nasinal (UN). Sebagaimana sudah menjadi rahasia umum, UN selalu menuai pro dan kontra. Gebrakan baru tersebut dibingkai dalam program “Merdeka Belajar” yang menjadi isu penting dan tonggak baru dalam pendidikan di Indonesia. Assesmen Nasional (Assemen Kompetensi Minimum, survei karakter, dan lingkungan belajar) ini menggantikan UN sebelumnya. Komposisi PPDB dengan menggunakan sistem zonasi. Jalur zonasi dengan ketentuan menerima siswa minimal 50 persen, jalur afirmasi minimal 15 persen, dan jalur perpindahan maksimal 5 persen. Sementara jalur prestasi atau sisa 0-30 persen lainnya disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. Selain itu dalam “Merdeka Belajar” ada penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang hanya mengadung tiga komponen saja yaitu tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan asesmen.

Masih rendahnya kompetensi literasi dan berpikir kritis siswa di Indonesia menjadi bagian penting pembelajaran abad 21 dengan 4 kompetensinya yaitu (critical thinking, creativity, collaboration, dan communication) terus digenjot agar semakin lebih baik. Pada tahun 2021 ini Assesment Nasional Berbasis Komputer (ANBK) pertama kalinya diselenggarakan. Sebagaimana diketahui bahwa ANBK ini tidak diikuti seluruh siswa, akan tetapi diambil secara acak, 30 siswa SD/MI, 45 siswa SMP/MTS, dan 45 siswa SMA/SMK/MA.  Bagi guru dan Kepala Sekolah hanya mengikuti survei lingkungan belajar.

Apabila kita mencermati PISA, uji kemahiran siswa meliputi membaca, matematika, dan sains serta keterampilan dalam upaya menerapkannya di kehidupan nyata, apa yang telah dapatkan di sekolah. Selain itu melalui kuesioner yang dibagikan kepada siswa dan kepala sekolah, PISA mengumpulkan informasi mengenai latar belakang siswa, sikap siswa terhadap belajar, dan lingkungan belajar mereka.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh PISA, 3 masalah penting dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pertama, besarnya persentase siswa berprestasi rendah. Meskipun Indonesia berhasil meningkatkan akses anak usia 15 tahun terhadap sistem sekolah, masih diperlukan upaya lebih besar untuk mendidik mereka agar target siswa berprestasi rendah ditekan hingga berada di kisaran 15–20% pada 2030 tercapai. Upaya ini bisa dilakukan melalui peningkatan keterampilan guru SD dalam mengajar membaca sebab keterampilan membaca siswa berkembang di masa awal duduk di bangku SD. Hasil PISA 2018 menunjukkan bahwa siswa-siswa SMP/MTs di desa cenderung memperoleh nilai rendah dalam kompetensi membaca dibandingkan dengan siswa-siswa dari kelompok karakteristik lain.

Kedua yaitu tingginya persentase siswa mengulang kelas. Hasil PISA memperlihatkan selisih besar dalam nilai membaca siswa yang mengulang kelas, terutama antara siswa yang pernah mengulang kelas di bangku SD dan yang tidak. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan mengulang kelas tidak membantu upaya peningkatan keterampilan membaca 187 siswa. Dibandingkan kebijakan mengulang kelas, adalah lebih baik jika guru berusaha lebih keras membekali siswa dengan keterampilan yang cukup agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik di kelas selanjutnya. Menangani masalah siswa mengulang kelas diharapkan dapat meningkatkan perolehan nilai siswa Indonesia dalam PISA 2024 sebesar 10–20 poin.

Ketiga yakni  tingginya ketidakhadiran siswa di kelas. Survei PISA menemukan bahwa siswa-siswa yang membolos seharian atau pada jam pelajaran tertentu cenderung mendapatkan nilai lebih rendah. Ketidakhadiran siswa di kelas ini memiliki keterkaitan erat dengan pengulangan kelas. Jika tingkat ketidakhadiran siswa dapat ditekan, perolehan nilai siswa di Indonesia pada PISA 2021 diharapkan meningkat 10 poin. Dengan mengetahui kelemahan-kelemahan tersebut, maka semuanya harus bekerja sama agar bisa diminimalisasi dan ditekan.

 

ANBK 2021

Asesmen Nasional Berbasis Komputer tahun 2021 ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, sekaligus memotret input, proses, dan out put pembelajaran. Sepanjang kepemimpinan Menteri Pendidikan, Mas Nadiem ini telah banyak inovasi baru. Hadirnya guru belajar dan berbagi menjadi sarana bagi guru untuk terus belajar, juga program guru penggerak dan sekolah penggeraknya.

Pemerintah tentunya sangat berharap agar pada uji PISA 2021 hasilnya harus lebih baik dibandingkan tahun 2018, artinya mengalami peningkatan.  Strategi pendidikan sudah mengalami pembaharuan, namun di sisi lain saat ini kita sedang dalam masa pandemi. Baru-baru ini saja sekolah dapat melakukan Pendidikan Tatap Muka Terbatas (PTMT).  Banyak wilayah di Indonesia, sekolah di masa pandemi tidak berjalan maksimal. Ada sekolah yang guru-gurunya tiap hari memberikan penugasan dan jarang menjelaskan atau berkomunikasi dengan siswanya. Keterbatasan-keterbatasan di masa pendemi ini tentunya menjadi masalah dalam upaya peningkatan hasil tes PISA 2021.

Siswa menjadi kurang bersemangat sekolah dan disinyalir angka putus sekolah di masa pandemi ini mengalami peningkatan. Orangtua siswa banyak yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) lantaran tempatnya bekerja gulung tikar. Bisa dikatakan kondisi ekonomi masyarakat saat ini lebih memprihatinkan dibandingkan saat uji PISA tahun 2018. Akan tetapi, kita harus tetap optimis semoga PISA 2021 hasilnya lebih bagus dibandingkan tahun 2018.

 

 

 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.